Berkat HIjUP dan Softex Daun Sirih, Si Tomboy Ini Tak Lagi Worry Soal Kewanitaan

invitation-hijup-blogger-softex (1)

Selama ini saya berpikir acara meet up blogger yang isinya “cewek banget” itu bakal ribet dan membosankan. Namun pikiran itu luruh seketika saat menghadiri HIjUP Bloggers Meet Up bersama Softex Daun Sirih pada Sabtu, 12 Mei 2018 di Benteng Kuto Besak Theatre Restoran, Palembang belum lama ini.

IMG-20180512-WA0022_1

Saat pertama tiba tepat pukul 11 siang, sebetulnya saya agak minder karena penampilan tidak se-kinclong female blogger lain yang sudah lebih dulu di lokasi. Maklum, saya tipe cewek yang jauh dari kata feminin. Saya belum terbiasa bersolek atau memadu-padankan baju agar enak dilihat.

Beruntung, salah satu blogger, Mbak Kartika Lestari yang biasa saya panggil Bikcik membisiki saya. Pada kotak hijau di atas meja yang diperuntukkan bagi masing-masing peserta, terdapat sehelai kain jilbab keluaran HIjUP. Bikcik membantu saya memakainya sebagai syal sekaligus menyuruh saya melepas kunciran rambut. Wah, efek rambut terurai dan syal tambahan membuat penampilan saya langsung tampak berbeda. Dari yang tadinya cewek-tomboy-banget, menjadi cewek-tomboy-yang-agak-feminin-sedikit 😹

IMG_20180522_182216

IMG_20180522_184819

Desain motif dan warna dari produk keluaran HIjUP saya akui memang menarik, dan sangat cocok untuk kemeja putih simpel saya. Meski diproduksi khusus untuk pakaian muslimah, jelas tidak ada larangan untuk saya yang kebetulan tidak berhijab ini untuk memakainya, kan? Asli, saya benar-benar dibuat jatuh hati dan penasaran ingin tahu koleksi HIjUP lainnya yang lengkap di website Hijup.com. Untungnya, saya punya kode voucher yang bikin dapat potongan belanja sebesar Rp. 50.000,- dengan minum pembelanjaan Rp 250.000,- . Eh, buat kalian yang lagi pengen belanja untuk persiapan lebaran, bisa juga lho pakai kode vouchernya. Catet nih : HIJUPSFTXPLM . Caranya tinggal klik banner (foto paling atas di postingan ini), setelah tautan terbuka tinggal masukin deh kode vouchernya. Tapi buruan ya …, berlakunya cuma sampai dengan 22 Juli 2018 dan nggak berlaku untuk produk diskon.

*

Acara di Kuto Besak Theater pun berlanjut, menghadirkan 4 narasumber kece dengan materi yang tentu saja tak kalah kecenya. Nah, saya akan coba merangkumnya di sini untuk kalian. Jangan bosan dulu ya membacanya, Ladies!

mbak-anastasia-01

Pertama, ada Kak Indah Nada Puspita, seorang social media influencer sekaligus host acara Hijab Travelling yang tayang di salah satu stasiun TV swasta nasional.

Kegiatan dan kesibukan Kak Nada yang padat memaksanya pandai-pandai menjaga kesehatan tubuh. Diantaranya dengan cara makan makanan bergizi, tidur yang cukup, banyak minum air putih, olahraga teratur dan berusaha untuk tidak stress atau banyak pikiran.

Tidak sebatas kesehatan tubuh, kesehatan organ kewanitaan juga penting untuk diperhatikan. Terutama saat sedang menstruasi dimana pertumbuhan bakteri menjadi berlipat, dan berpotensi besar menimbulkan masalah seperti keputihan. Untuk itu, Kak Nada menyarankan agar cewek-cewek rajin mengganti pembalut saat menstruasi.

Ucapan Kak Nada itu dibenarkan oleh narasumber kedua, dr. Abraham Martadiansyah, SpOG. Menurut dokter ganteng ini, keputihan menjadi masalah kewanitaan nomor satu se-Indonesia. Pemicunya secara umum adalah iklim tropis Indonesia yang memang “kurang bersahabat” untuk area Miss V yang senantiasa tertutup. Cuaca yang panas dan menjadikan lembap, membuat area sensitif itu rentan diserang pertumbuhan bakteri dan menyebabkan keputihan. Selain itu, keputihan juga bisa dipicu oleh hal lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, obesitas hingga faktor hormonal dan stress.

Berikut Tips dari dr Abraham untuk menghindari keputihan :

  1. Menghindari penggunaan celana ketat yang terbuat dari bahan yang tidak menyerap keringat
  2. Segera ganti pakaian yang berkeringat pasca olahraga
  3. Tidur tanpa celana dalam — penting agar miss V tetap kering dan dapat ‘bernafas’ di malam hari
  4. Pastikan Miss V dalam kondisi benar-benar kering sebelum berganti celana dalam  atau setelah buang air kecil
    Gunakan pembersih Miss V dari bahan alami
  5. Jangan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.

Selama ini, saya suka dibuat resah oleh siklus bulanan. Ingin curhat atau ngobrol-ngobrol untuk cari informasi tapi bingung, tidak tahu siapa yang harus ditanya karena saudara dan teman dekat hampir semuanya cowok. Saya galau karena lama menstruasi saya tergolong singkat, maksimal 3 hari saja. Namun volume darah yang keluar benar-benar mengkhawatirkan karena (rasanya) terlalu banyak. Saya bahkan bisa ganti pembalut 10-12 kali sehari semalam saking derasnya.

Beruntung, saya bisa bertanya langsung pada dr Abraham yang menjelaskan bahwa lama pendarahan 2-8 hari dengan siklus 21-35 hari sekali adalah masih termasuk normal. Demikian pula volume darah yang keluar, jika tubuh masih sanggup mentolerir, artinya masih normal. “Yang penting teratur. Perlu waspada jika antara siklus sebelum dan sesudahnya jauh berbeda. Misal bulan ini sedikit, lalu bulan depan banyak. Nah, itu yang perlu pemeriksaan lebih lanjut,” kata dr. Abraham.

Leganya saya mendengar penjelasan dokter satu ini. Masalah selanjutnya hanya tinggal pembalut. Tidak banyak merk pembalut yang menyediakan varian yang sesuai dengan kebutuhan saya (yang bisa menampung volume darah haid cukup banyak). Namun sepertinya saya tidak perlu risau. Narasumber ketiga, Kak Anastasia Erika yang menjabat sebagai Brand Manager Softex Daun Sirih menjelaskan bermacam varian produk Softex Daun Sirih yang memang diproduksi khusus sebagai jawaban atas permasalahan kewanitaan perempuan Indonesia.

IMG_20180522_191017

Untuk kebutuhan saya, Softex Daun Sirih Varian Slim Extra Heavy Flow 36 jelas jadi pilihan utama. Bantalan pembalutnya yang panjang bisa menampung darah haid yang keluar saat sedang deras-derasnya. Varian ini juga bisa dipakai saat tidur. Nyaman tanpa khawatir tembus. Untuk yang darah haidnya tidak terlalu deras, bisa pakai varian yang lain seperti slim regular flow 23 cm atau heavy flow 29 cm. Kalau sudah selesai haid, bisa juga pakai pantyliner untuk mengurangi kelembapan area Miss V.

IMG_20180522_190841

Selain itu, seperti yang tercantum pada kemasannya, semua varian Softex Daun Sirih memang mengandung ekstrak daun sirih yang bermanfaat bagi kesehatan organ kewanitaan. Daun sirih memang telah lama terbukti khasiatnya sebagai antiseptik alami yang sekaligus berfungsi sebagai penghilang bau. Jadi kaum hawa kekinian nggak perlu khawatir organ kewanitaannya menjadi gatal atau bau.

Kak Erika menyampaikan, kebiasaan buruk perempuan saat menstruasi adalah malas mengganti pembalut. Padahal, pembalut perlu diganti setidaknya setiap tiga jam sekali. Lewat dari tiga jam, pertumbuhan bakteri jahat akan sangat cepat berlipat sehingga berisiko tinggi bagi organ kewanitaan. “Jangan nunggu penuh pokoknya. Ganti setiap 3 jam sekali agar kebersihan dan kesehatan organ kewanitaan kita tetap terjaga,” kata Kak Erika.

Puas ngobrol sehat bebas worry soal seluk beluk dunia kewanitaan, peserta masih dibekali satu ilmu tambahan sebagai bonus, yakni sesi belajar seni photography Flat Lay bersama Om Ade Yolfi. Om Ade ini seorang fotografer yang sudah lama aktif di Asosiasi Profesi Fotografer Indonesia (APFI) Sumsel.

Menurut Om Ade, Flat Lay adalah gaya fotografi dengan cara membidik beberapa objek, baik makanan, produk, dan lainnya melalui jepretan kamera dari atas ke bawah lurus 90 derajat. Objeknya itu sendiri diletakan di permukaan datar (flat) di permukaan yang menghadap ke kamera. Wohoo, berguna banget ini untuk blogger yang sering dapet job endorsement.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk teknik foto flat lay, yakni background, proporsi foto, pencahayaan dan editing. Om Ade yang saat mengajar tidak terlalu banyak berteori, langsung mengajari seluruh peserta untuk praktik.

IMG_20180512_142031

Seru dan asyik. Sampai nyaris lupa waktu. Bersyukurnya saya dikasih kesempatan ikut acara seasyik ini. Bukan hanya soal bingkisan dan isi goodie bag-nya yang memanjakan mata, tapi lebih kepada banyaknya ilmu baru yang diperoleh sepulangnya dari acara. Si Tomboy yang biasanya cuek ini, bisa lebih peduli dengan kebersihan dan kesehatan organ kewanitaan, terutama saat menstruasi.

Terima kasih ya, HIjUP dan Softex Daun Sirih atas undangannya. Semoga nggak kapok mengundang saya. Sampai jumpa di next event.

banner-blog-blogger-softex-palembang-2

Nb :

Buat kalian yang pengen tahu lebih banyak soal HIjUP dan Softex Daun Sirih, bisa cek link-link di bawah ini :


https://www.hijup.com/id/

Instagram : @hijup

Twitter : @hijup

Line : https://line.me/R/ti/p/@usg8207g

Youtube : https://www.youtube.com/hijupcom

Facebook : https://www.facebook.com/hijupcom

HijUp Magazine : https://www.hijup.com/magazine

x

Softex Daun Sirih
Products by PT Softex Indonesia

http://softexindonesia.com/id/

Instagram : @womenhealthypedia

Iklan
Dipublikasi di Lagi Waras | Tag , , | 7 Komentar

An ADHD Person, First Story

ADHD : Attention Deficit Hiperactivity Disorder. Sumber: www.diarysehat.info

Tak ada ruang bernama “kasihan” untuk penyandang ADHD. Apalagi permakluman.

Sebelum membahas ini lebih jauh, izinkan saya menjelaskan sedikit soal ADHD. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas adalah sebuah gangguan pada perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif, impulsif, serta sulit memusatkan perhatian.

Saya divonis ADHD di usia 27 tahun. Amat terlambat mengingat kelainan ini seharusnya sudah bisa diidentifikasi sejak usia kanak-kanak seperti halnya autisme. Sedikit menyesali keterlambatan ini, namun sangat bersyukur karena semua “keanehan” dalam diri akhirnya punya jawaban. Yah, saya lega. Ternyata saya tidak se-“anak setan” itu. Saya “cuma” ADHD.

Ketidak-seimbangan cairan dalam otak dan kinerja otak yang berbeda dengan manusia normal, membuat penyandang ADHD memiliki tiga gejala utama seperti berikut

1.Hiperaktif

Tidak bisa diam, pecicilan, sulit duduk tenang, senang berlari atau memanjat sesuatu, menggeliat, mudah bosan, dan selalu terlihat gelisah.

2. Inattention

Tidak (atau bermasalah pada) perhatian. Sulit fokus, tampak tidak mendengar saat orang lain berbicara, perhatian yang sangat mudah teralihkan, sering melakukan kesalahan karena kurang hati-hati, sulit menyelesaikan tugas, sering lupa dan kehilangan sesuatu, sering mengigau bahkan berjalan saat tidur.

3. Impulsif

Bertindak tanpa berpikir (spontan). Sulit menunggu giliran, sering menginterupsi orang lain, berbicara/menjawab pertanyaan sebelum diberi kesempatan, bertindak tanpa memikirkan konsekuensinya (mis : berlari di tengah acara formal, mengejar sesuatu yang berbahaya, dll).

Sebelum tahu bahwa saya ini penyandang ADHD, saya selalu bingung kenapa terus-terusan membantah orang lain meski tahu hal itu tidak sopan. Saya lelah terus berdebat dengan siapa saja, meski tahu tidak ada gunanya. Saya tidak berhenti menyesal dan menyalahkan diri sendiri karena siklus membuat orang lain terluka akibat ketidaksabaran saya terus berulang sepanjang hidup.

Namun setelah tahu ADHD juga tidak lantas membuat segalanya jadi mudah. Saya tidak terlalu bermasalah dengan gejala hiperaktivitas dan inattention (karena sepertinya semua orang sudah maklum dengan saya yang pecicilan dan seolah “punya dunia sendiri”), namun tidak demikian dengan gejala impulsif saya.

Dunia orang dewasa yang kompleks, dan menuntut saya rutin bersosialisasi membuat gejala impulsif menjadi sebuah masalah besar. Tidak ada orang “waras” yang menoleransi mulut nyablak saya. Tidak ada yang tidak marah, kalau saya mulai bertindak seenaknya tanpa memikirkan konsekuensi sama sekali. Tidak ada permakluman untuk kesulitan saya menunda respon.

Semakin rumit, ketika sebaik apa pun saya menjelaskan fakta ilmiah terkait  ADHD, semuanya malah hanya terdengar seperti sebuah pembenaran. Semacam pembelaan diri atas sebuah perbuatan yang jelas-jelas salah dan merugikan orang lain. Bahkan, tidak sedikit pula yang menganggap ADHD adalah lelucon yang tidak diyakini kebenarannya.

Tidak ada yang percaya bahwa setiap harinya, saya selalu sibuk membungkam isi kepala sendiri. Penyandang ADHD berpikir terlalu cepat dan kompleks, namun tidak tahu cara berhenti. Seperti mobil Ferrari yang rem-nya blong.

Bingung?

Coba bayangkan kalian terkurung di satu ruangan dengan 100 televisi menyala bersamaan, tanpa tombol power atau volume. Bingung, mana yang harus didengarkan. Bingung, program mana yang harus diprioritaskan. Belum selesai kamu memutuskan, mulut atau tangan atau kakimu sudah bergerak dengan sendirinya.

Bahkan saat tidur, saya tidak pernah benar-benar beristirahat. Kalau hanya diganggu mimpi sih masih mending,  tapi sampai berjalan sambil tidur itu benar-benar repot dan melelahkan.

Kadang, penyandang ADHD terlihat diam dan sangat tenang. Tapi sesungguhnya itu hanya kelihatannya saja. Otak di dalam hanya sedang dalam mode hiperfokus, yang memang berlaku untuk hal-hal tertentu yang sangat disukai (kalau saya membaca komik dan nonton anime ).

27 tahun, dan ADHD itu melelahkan. Tapi saya tidak tinggal diam, tentu saja. Sudah tahu tidak ada manusia normal yang akan memaklumi, atau mengasihani … pilihan tersisa ya memang hanya berjuang mengobati. Yup, saya sudah jadi pasien tetap sebuah klinik psikiatri.

Psikiater saya mengatakan ADHD tidak bisa disembuhkan, namun dengan sejumlah terapi (obat, perilaku, psikologi), gejalanya bisa ditekan. Tidak mudah dan tidak instan tentu saja. Saya tidak tahu butuh waktu berapa lama sampai mampu mengendalikan semua gejala impulsif yang paling sering merugikan orang lain ini. Tapi saya tidak akan menyerah. Saya akan buktikan kalau saya lebih dari sekadar ADHD.

Saya tidak minta dikasihani. Tidak pula minta dimaklumi, apalagi dibenarkan atas perilaku saya yang jelas-jelas salah dan merugikan orang lain. Namun, mengingat sungguh tidak mudah bagi saya menjalani semua ini … saya berharap, orang-orang bisa sedikit –sedikit saja– menambah dosis kesabaran saat menghadapi saya. Sedikit dosis kesabaran yang sama, ketika mungkin Anda tidak sengaja tertabrak oleh seorang buta di tengah kerumunan.

Jika masih punya waktu, tidak ada salahnya menonton video ini. Berisi puisi yang ditulis seorang anak penyandang ADHD.

Take My Hand ~ Andrea Chesterman Smith

Take my hand and come with me,

I want to teach you about ADHD

I need you to know, I want to explain,

I have a very different brain

Sights, sounds and thoughts collide,

what to do first? I can’t decide!

Please understand , I’m not to blame

I just can’t process things the same


Take my hand and walk with me,

Let me show you about ADHD

I trie to behave I want to be good,

but sometimes I forget to do as I should

Walk with me and wear my shoes,

you’ll see is not the way I choose

I do know what I’m supposed to do,

 but my brain is slow getting the message through

Take my hand and talk with me,

 I want to tell you about ADHD

I rarely think before I talk,

I often run when I should walk

It’s hard to get my school work done,

my thoughts are outside having fun

I never know where to start,

 I think with my feelings and see with my heart


Take my hand and stand by me,

I need you to know about ADHD

It’s hard to explain but I need you to know,

I can’t help my feelings show

Sometimes I’m angry, jealous or sad I feel overwhlemed frustrated and mad

I can’t concentrate and loose all my stuff,

 I trie really hard but it’s never enough


Take my hand and learn with me,

I want to share a secret about ADHD

I want you to know there is more to me,

 I’m not defined by it you see?

I’m sensitive, kind and lots of fun,

I’m blamed for things I haven’t done

I’m the loyalest friend you’ll ever know,

 I just need a chance to let it show

Take my hand and look at me,

 just forget about ADHD

I have real feelings just like you,

The love in my heart is just as true

I may have a brain that can never rest,

but please understand I’m trying my best

I want you to know, I need you to see, I’m more than a label

I’m still me.

Palembang, Mei 2018

(Tulisan ini juga tayang di kompasiana.com/arakoo )

Dipublikasi di Catatan Harian Tidak Penting | Tag , , , | Meninggalkan komentar

[Cerpen] September dan Gerimis di Matamu

A Short Story by Arako

 

“Namaku Surya. Surya Matahari Khatulistiwa. Ibuku yang gila itu pemuja Amaterasu*). Dia melahirkan satu kali. Tepat ketika matahari melintas di garis khatulistiwa, 22 September, hampir setengah abad yang lalu ….”

Suara bariton Surya yang agak serak itu memecah keheningan subuh. Dia duduk setengah berbaring di ranjang yang kayunya mulai keropos dimakan rayap. Ranjang itu berderit ketika tangannya bergerak meraih cangkir di meja kecil di sisi ranjang.

“Dan beliau mewariskan kegilaannya itu pada putra semata wayangnya,” sahut Wayan dengan nada setengah geli. Wanita 40 tahun itu duduk di dekat kaki Surya, mengoles minyak kelapa di betis penuh rambut itu, lalu mengurutnya lembut. “Kalau-kalau kau lupa, Mas. Lebih dari separuh hidupmu sudah kauhabiskan untuk berburu matahari terbit. Dan kemudian mengurungnya dalam kanvas.”

Surya tersenyum. Senyum hangat yang mencapai kedua matanya yang keriput. “Jam berapa ini?”

“Masih satu jam lagi sebelum fajar. Kenapa?”

“Aku sekarat ….”

Wayan terdiam. Pijatannya terhenti beberapa saat. Dia menaksir kesungguhan makna kalimat itu.

“Aku sekarat, Wayan,” ulang Surya, terdengar lebih sungguh-sungguh ketika istrinya itu tak segera merespon ucapannya.

Wayan mengerjap. Dua kali. Dihelanya nafas panjang, lalu tersenyum. Dia kembali memijat kaki suaminya. “Aku tahu.”

“Kau tahu?”

Wayan mengangguk meyakinkan. “Jadi, apa kau sudah memutuskan abumu akan disebar di mana? Atau kau ingin jasadmu ditanam saja, sehingga ada kalimat indah tertulis abadi di batu nisanmu kelak?”

Surya tergelak. Dia pandangi wajah perempuan itu dalam-dalam. Perempuan itu kadang memang tampak tak punya hati. Tapi puluhan tahun mengenalnya, Surya tahu, justru hati penuh ketenangan dan kedamaianlah yang dimiliki Wayan. Hati cantik yang demikian bersih tanpa prasangka, hati yang percaya bahwa selalu ada kebaikan dalam setiap detik kehidupan dari Sang Pencipta.

“Tak perlu repot membawa abuku kemana-mana, Wayan,” kata Surya. “Buang saja di selokan belakang rumah kita itu. Toh nanti sampai juga ke laut…

“Semakin lama aku sampai ke samudera, maka semakin banyak pula jiwa-jiwa tersesat yang bisa kutemui. Mungkin salah satu kodok atau kecoak itu bisa menyampaikan berjuta permohonan maafku pada ibu-bapakmu.”

***

Mata itu.

Wayan sewaktu gadis baru pertama kali melihat mata yang demikian indah.  Bukannya bulat membesar, sepasang mata itu justru tampak sipit memanjang. Mata itu begitu serius menatap bentangan kanvas persegi di depannya, dan sesekali fokus beralih pada pemandangan di balik kanvas : pura megah dengan latar belakang matahari terbit nan elok. 

Sejak hari itu, diam-diam Wayan sering mengintip sang pemilik mata. Seorang pemuda yang ekspresinya saat melukis sungguh laksana candu. Memabukkan dan membuat Wayan ingin melihatnya lagi, lagi, dan lagi.

Hingga akhirnya, pemuda itu menyatakan cinta di hari ke-sepuluh Wayan mengintipnya. Gadis belia itu mendadak kehilangan akal sehat. Tak lagi dia indahkan aturan kasta dan kehormatan keluarga, Wayan mantap memilih mataharinya sendiri.

Hari itu, tanah basah oleh hujan awal September. Penduduk kampung geger. Wayan, yang kala itu masih bernama Ida Ayu Utami Narayani, dikabarkan kawin lari. Putri sulung Pemangku terhormat itu kabur dengan pemuda yang bukan hanya tak berkasta dan tak jelas asal usulnya, namun juga tidak waras.

Dialah Surya. Pemuda yang tak akan pernah mau melukis, jika bukan matahari sebagai objeknya.

***

“Maafkan aku, Wayan…”

Ucapan Surya memutus lintasan memori yang sekelebat tadi mampir di benak Wayan.

“Maaf?” sahut Wayan bingung.

“Ya. Maaf. Aku sungguh minta maaf, untuk merasa sangat mencintaimu, namun tidak pernah membawa kebaikan bagi dirimu. Juga hidupmu. …”

“Bicara apa kau, Mas? Tidakkah kau melihat setelah sekian lama …, aku bahagia. Aku bahagia bersama matahariku. Selalu.”

Surya memejamkan mata. Dia tahu Wayan tak berdusta. Karena dia pun merasa hal yang sama. Tak peduli dosa dan kutukan yang pasti mengikatnya seumur hidup, bahkan mungkin membuntutinya sampai ke alam baka… Surya bahagia. Tak ada yang mampu menyangkal itu.

“Wayan…”

“Ya?”

“Bantu aku berdiri. Aku ingin melihat matahari terbit.”

Wayan memapah suaminya. Tak terlalu sulit. Tubuh yang bertahun merapuh oleh kanker itu seperti tak lagi berbobot.

Wayan mendudukkan Surya di kursi teras, tempat favoritnya memandang matahari terbit.

“Gerimis…,” desah Surya. “Matahari terbit paling indah dilihat justru saat gerimis. Kilaunya akan tampak seperti tirai air mata malaikat… Membawaku yakin, bahwa impian paling mustahil pun bisa terwujud. Pasti…”

Wayan mengerutkan kening. Semalam memang hujan deras, tapi pagi ini langit justru sangat cerah. Semburat kemerahan di batas timur seiring terbenamnya bintang fajar, makin lama makin jelas terlihat di pucuk pepohonan. Sama sekali tak tampak awan, apalagi gerimis. Mungkinkah penglihatan suaminya sudah demikian parah?

“Mas?”

Namun Surya telah pergi.



***


September, bumi memuntahkanmu.
September, semesta menjadikan kau dan aku satu.
September, malaikat maut menjemputmu.

Gerimis yang pernah diharamkan Surya untuk jatuh di mata Wayan itu kini kian menderas. Sederas doa yang mengucur dari bisik bibirnya.

 


Om vayur anilam amrtam athedam bhasmantam sariram Om krato smara, klie smara, krtam smara.”**)

****



Palembang. 17916.



Note :
*) Dewa Matahari Jepang
**) Doa Hindu untuk orang yang baru meninggal. Diambil dari Yajur Veda XL.15. Artinya lebih kurang : “Ya Hyang Widhi, Penguasa hidup, pada saat kematian ini semoga ia mengingat wijaksana suci Om, semoga ia mengingat Engkau Yang Maha Kuasa dan kekal abadi. Ingat pula kepada karmanya. Semoga ia mengetahui bahwa Atma adalah abadi dan badan ini akhirnya hancur menjadi abu.”

Dipublikasi di Fiksikoo | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

[cerpen] Anak Teroris yang Rindu Bapaknya

short story by Arako

Ilustrasi foto : Tribunnews.com

***

 

Cahyo, anak lelaki bertahi lalat di sudut mata itu termenung di bawah pohon beringin rindang di halaman sebuah bangunan pabrik tua. Ekor matanya mengikuti sehelai daun yang melayang jatuh lepas dari dahan. Dia sibuk berpikir, apa sesungguhnya yang membuat dedaunan kuning kecokelatan itu melepas cengkeraman pada batang yang selama ini menafkahinya, hanya untuk memilih melayang jatuh ke permukaan tanah lembap berlapis tikar rerumputan …., dan kemudian berakhir begitu saja di tempat bakaran sampah.

Dan Cahyo pun menjawab sendiri tanya di hatinya itu.

Sama seperti dirinya, daun itu tak punya pilihan. Bukannya sengaja jatuh, melainkan karena sudah tak kuat menahan beratnya rindu yang telah ditulis seseorang pada permukaannya.

 

Seseorang itu Cahyo sendiri. Ya. Cahyo memang senang menulis di atas daun dengan tinta dan pena dari khayalnya. Isinya bermacam-macam, tapi selalu tentang kerinduan pada satu orang saja : Bapaknya. Sebanyak helai dedaunan telah jatuh, sebanyak itu pula rindu yang sudah ditulisnya pada Bapak.

Hmmm, mekanisme kerja rindu yang sungguh aneh. Cahyo kan tidak pernah benar-benar ingat bagaimana Bapaknya. Dia baru satu tahun ketika Bapak meninggal. Dia tidak tahu apa-apa kalau bukan dari omongan orang-orang bahwa Bapak tukang bikin bom. Bahwa Bapak sudah buron selama tujuh tahun lebih. Bahwa Bapak siap jadi “pengantin” untuk salah satu serangan di kedutaan besar negara tetangga, sebelum akhirnya tewas oleh peluru anggota Densus 88 saat penggerebekan.

 

Anak Teroris.

Label yang menempel pada kening Cahyo kemana pun bocah itu pergi. Memastikan bibir-bibir sumbing menyanyikan senandung caci maki untuk dirinya. Juga mata yang tak habis memandang sinis penuh penghakiman akan keberadaannya.

Oh, andai Bapak masih ada, tentu Cahyo bisa menjalani kehidupan normal seperti laiknya anak-anak lain. Mencemaskan PR dan ujian, dan bukannya nasib bangunan tempatnya bernaung jika sampai dibongkar pihak berwajib karena berada persis di bantaran kali.

Huh. Yang benar saja, akal sehat Cahyo berbisik jemu. Ini bukannya lingkaran setan? Kan Bapaknya sendiri yang membuatnya tak punya teman seperti sekarang?

 

Meski demikian, Cahyo tetap rindu Bapak. Maka, dia mulai mencari daun yang bisa ditulisinya lagi.

 

***

 

“… Kalian mengerti? Cahyo?” kata Kakek berjenggot kelabu dengan suara baritonnya yang tegas. “Pastikan kalian benar-benar berada di kerumunan penonton sebelum menekan tombol merah itu!”

 

Cahyo mati-matian menahan hasrat untuk menguap dan memutar bola matanya. Dia bosan dengan penjelasan yang diulang sebanyak sejuta kali selama setahun penuh ity. Tapi dia tahu, Kakek Jenggot dan 9 pasang mata orang dewasa lainnya di ruangan remang-remang berbau bubuk mesiu itu terfokus padanya seorang.

 

“Mengerti, Kek…,” jawab Cahyo mantap.

“Cahyo…” Paman bersorban putih yang kini berbicara. “Mungkin kau gugup saat ini mengingat ini akan jadi malam terakhirmu. Tapi jangan biarkan kegugupan itu menggoyahkan keyakinanmu. Ingatlah, yang kita lakukan ini adalah kebenaran. Kita berjuang di jalan Tuhan.”

“Betul, Cahyo,” timpal Bapak berpeci hitam. “Ingat apa yang sudah mereka lakukan padamu, juga Bapakmu. Ketahuilah, yang kaulakukan ini hanya meneruskan apa yang dikerjakan Bapakmu di masa lalu.”

“Ya. Saya mengerti…,” sahut Cahyo tanpa ragu sedikit pun.

 

Kakek janggut menepuk bahu Cahyo sejenak, sebelum pembicaraan beralih pada topik lain meski masih berhubungan. Cahyo hanya separuh mendengarkan ketika mereka membahas skenario rencana cadangan jika Cahyo gagal melaksanakan tugas.

 

“Kita tidak perlu khawatir,” kata Kakek Janggut. “Terlalu banyak orang di sana esok, bahkan para TNI dan Polri keparat itu tidak akan sadar kalau kita melibatkan bocah 14 tahun…”

Pertemuan itu berakhir dengan pekik kalimat yang menyerukan kebesaran Tuhan.

***

Cahyo terbangun dengan segar menjelang subuh hari itu. Dia sudah melepaskan semua beban jiwa letihnya pada Tuhan. Dalam sembahyang terakhirnya itu, dia sudah benar-benar ikhlas dan mantap dengan apa yang akan dilakukan. Maka yang dia lakukan kini hanyalah menikmati detik-detik terakhir hidupnya…

 

Dia menatap ke luar jendela. Masih gelap, namun dia masih bisa melihat siluet kerimbunan daun pohon beringin. Dia tidak akan pernah melihatnya lagi.

 

Dia hanya berharap dan percaya satu hal…, jika ribuan daun kecil-kecil itu telah lepas semua dari rantingnya, setidaknya akan ada satu helai yang diterbangkan angin…, melayang terus hingga puncak gunung, atau ke bulan dan bintang, atau justru ke jurang neraka terdalam… kemana saja…, asal daun bertulis rindu itu sampai kepada Bapak.

 

Masih ada waktu sebelum panggung hiburan rakyat di lapangan tengah kota itu dimulai.

***

Cahyo sekarat. Tubuh kurusnya sudah terlilit kabel aneka rupa yang tersambung pada tas ransel di punggungnya. Dia memejamkan mata. Meraba tombol merah yang disinggung Kakek Janggut semalam…

 

Bibirnya berbisik doa permohonan ampun untuk dosanya, terlebih dosa Ibu Bapaknya.

Dengan menyebut nama Tuhan…, meyakini Yang Maha Kuasa itu yang kelak menjemput rindunya, Cahyo menekan tombol merah itu.

 

***

Esok harinya, halaman depan koran lokal kota itu menampilkan kepala berita : “Asyik Bergoyang, Kemben Marry Annie Melorot”, lengkap dengan foto sang artis dangdut kondang ibukota yang sibuk membenahi pakaiannya di hadapan ribuan pasang mata yang menonton.

Para pembaca sibuk memelototi foto yang di-blur itu, hingga tak terlalu memperhatikan berita kecil di kolom paling kiri : “Ledakan di Pabrik Kembang Api, 11 Pekerja Tewas!

**

 

 

Dipublikasi di Fiksikoo | Tag , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Mengenal Floriografi : Berbahasa Lewat Bunga

Foto: Kompas.com/Roderick Adrian Moses

Balai kota Jakarta beberapa waktu lalu sempat dibanjiri kiriman karangan bunga dari masyarakat untuk gubernur dan wakil gubernur yang baru saja kalah dalam Pilkada. Banyak yang berdecak kagum dengan jumlah kiriman yang mencapai angka ribuan. Apalagi ucapan yang tertera sangat kreatif dan beragam. Meski demikian, tak sedikit pula yang mencibir aksi kirim-kirim bunga tersebut dengan berbagai alasan. Mulai dari “buang-buang uang”, hingga tuduhan pengerahan massa.

Hiruk pikuk ribuan bunga di Balai Kota tersebut membuat saya mendadak teringat sebuah istilah yang tanpa sengaja ditemukan ketika sedang riset untuk sebuah tulisan fiksi bertahun-tahun lalu : Floriografi.

Nah, apa itu Floriografi?

Floriografi –atau disebut juga bahasa bunga– adalah suatu bentuk komunikasi yang menggunakan bunga atau rangkaian bunga. Bahasa ini memungkinkan si pengirim atau pemberi bunga untuk mengungkapkan perasaan yang tak terucap oleh kata-kata. Berbeda dengan negara lain seperti Belanda, Inggris, atau Jepang yang sudah terbiasa berbahasa bunga, di Indonesia penggunaan floriografi ini sepertinya masih sangat terbatas. Masyarakat sepertinya baru familiar dengan mawar merah sebagai simbol romantisme dan krisan putih untuk simbol dukacita. Padahal, hampir setiap bunga punya makna sendiri (cek di sini)

Sejarah

Arti tertentu pada bunga sudah dikenal dalam peradaban manusia sejak ribuan tahun lalu. Namun penggunaan bahasa bunga ini menjadi sangat populer di Inggris dan Amerika Serikat pada zaman Ratu Victoria di abad 18. Masyarakat pada zaman itu kerap saling memberi karangan bunga kecil yang disebut Nusegays atau Tussie-Mussies. Lantaran karangan bunga ini juga bisa digunakan sebagai aksesori pakaian, banyak orang memanfaatkannya menjadi sarana komunikasi rahasia. Hal ini seiring dengan meningkatnya minat masyarakat setempat pada dunia botani di era tersebut.

Kendati demikian, seperti yang dirangkum dan diterjemahkan dari languageofflowers.com, penggunaan bahasa bunga di zaman Victoria sesungguhnya berasal dari Turki. Pada awal abad ke-17, pengembangan berbagai bentuk makna bunga dilakukan sebagai jalan bagi selir-selir wanita yang tidak dapat membaca dan menulis agar tetap bisa berkomunikasi satu sama lain.

Floriografi sendiri diperkenalkan ke Eropa pada tahun 1718 oleh istri duta besar Inggris untuk Konstantinopel, Lady Mary Wortley. Dalam sebuah surat, dia menuliskan tentang “Bahasa Rahasia Bunga” yang ditemukannya selama kunjungan di Turki.

Di tahun 1819, Louise Cortambert, di bawah nama pena Madame Charlotte de la Tour menulis dan menerbitkan kamus pertama bahasa bunga, Le Languagerders Fleurs. Segera saja kamus ini menjadi referensi populer, terutama di kalangan wanita Eropa pada masa itu dan terus berkembang sampai sekarang.

Bahasa yang Berbeda

Seperti halnya bahasa lain pada umumnya, floriografi rupanya punya banyak versi. Beda negara, bisa jadi beda pula pemahamannya akan bahasa bunga. Contohnya bunga mawar kuning. Negara-negara Barat memaknainya sebagai “persahabatan”. Namun di Jepang (di mana floriografi disebut dengan istilah “Hanakotoba”), mawar kuning mempunyai arti “kecemburuan”.

Tak hanya jenis bunga atau spesiesnya yang memiliki makna tersendiri, warna dan jumlah bunga yang dikirim juga bisa diartikan berbeda lho. Contoh, setangkai mawar merah berarti “cintaku hanya untukmu”, namun 144 mawar berarti “maukah kau menikah denganku”. Hmm, kalau belum paham ribet dan membingungkan, ya?

Meski demikian, untuk yang baru ingin memulai berbahasa bunga tak perlu risau. Walau tidak diakui secara resmi, Victorian flower language atau bahasa bunga Victoria dapat dijadikan rujukan secara umum. Popularitas menjadikannya sebagai bahasa bunga internasional. Nah, jadikan ini sebagai kamus.

Floriografi dalam Karya Fiksi

Sebagai penggemar karya fiksi, tak lengkap rasanya jika tak mengulas dari sudut ini. Banyak penulis menggunakan bahasa bunga dalam tulisan-tulisannya. Sebut saja William Shakespeare yang memakai lebih dari 100 kata “bunga” dalam karyanya. Ophelia, dalam Hamlet menyebutkan dan menjelaskan makna beberapa bunga seperti rosemary, daisy, dan violet.

J.K Rowling, penulis Harry Potter juga diduga kuat menggunakan floriografi lho. Pada salah satu adegan di buku Harry Potter dan Batu Bertuah, tepatnya dalam pelajaran ramuan pertama yang diikuti Harry, Snape bertanya, “Potter, apa yang kudapat jika aku menambahkan bubuk akar asphodel ke cairan wormwood?”

Kalimat tersebut terlihat biasa saja. Namun jika membuka kamus bahasa bunga Victoria, bunga asphodel –yang merupakan salah satu spesies bunga lily- mempunyai makna “my regrets follow you to the grave”.Sementara wormwood bermakna “absence”. Jika keduanya digabungkan, sepertinya Snape hanya ingin mengungkapkan rasa penyesalan dan bela sungkawa atas meninggalnya Lily, ibu Harry.

Well, meski hal ini masih berupa spekulasi para penggemarnya dan belum mendapat konfirmasi resmi dari J.K Rowling, namun sepertinya –bagi penulis pribadi sendiri–, terlalu menarik untuk diabaikan.

Penutup

Floriografi adalah bahasa simbol. Tak segalanya ungkapan perasaan di dunia ini perlu dan mampu disampaikan dengan kata-kata. Floriografi adalah bahasa estetika.Bahkan jika seseorang mendapat rangkaian bunga anyelir kuning (yang bermakna penolakan, kebencian dan kekecewaan), dia masih tetap bisa menikmati keindahan dari emosi negatif yang dikirimkan padanya.

Jadi, bagi yang mungkin masih belum mampu memahami kedalaman makna bahasa bunga, tidak perlu nyinyir atau menuduh yang bukan-bukan pada mereka yang mempraktikkannya. Kembali pada bunga-bunga di balai kota Jakarta, saya justru sangat salut pada mereka yang berinisiatif mengirimkannya pada Ahok dan Djarot. Pada bunga-bunga yang cuma bisa saya lihat fotonya, saya tak hanya bisa memahami rasa kecewa, kesedihan, tangis, luka, dan mungkin juga ketidak-relaan pengirim atas hasil pilkada, namun juga rasa terima kasih, penghormatan, dan tentu saja CINTA.

Melihat reaksi Ahok dan Djarot atas bunga-bunga tersebut, rasanya hanya ada satu kesimpulan : pesan dan perasaan sudah tersampaikan. Elegan. Tanpa perlu panas-panasan, tak perlu teriak-teriak di jalanan dan menimbulkan kemacetan (ups!)

**

Referensi:
Language Of Flowers
Wikipedia
All Florists
Toko Bunga Hias
Romantisnya Bermacam Bahasa Bunga Menurut Jepang dan Barat
The Heartbreaking Truth Behind Snapes First Words to Harry in Harry Potter

Dipublikasi di Lagi Waras | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

(Calon) Suami Editor

gambar dicolong dari : www.tigaserangkai.com

gambar dicolong dari :
http://www.tigaserangkai.com

“‘Feminin bukan ‘feminim’. ‘Sekadar’ bukan ‘Sekedar’. ‘Gadget’ itu di-Italic-kan, kecuali kalau kamu ganti dengan kata ‘gawai’,” omel Arya pagi itu. Tangannya sibuk mencoret-coret naskah cerpen hasil ketikanku semalam.

“Hoaaamm!!!”

Sengaja aku menguap lebar-lebar. Bosan. Dasar editor!

Sepertinya aku harus pertimbangkan ulang untuk memilih editor sebagai calon suami. Kesalahan kecil dalam ketikan saja diungkit-ungkit terus, bagaimana kalau sudah menikah nanti?

“Ra,” tegur Arya. Suaranya berubah lembut. Dia mengacak rambutku dengan sayang. “Kamu nggak bisa jadi penulis keren kalau malas belajar Bahasa Indonesia begini. Sayang kan, cerpen bagus-bagus tapi nggak bisa dimuat di media karena nggak lulus sensor?”

“Yah. Ngomong doang sih gampang. Kamu enak lulusan sastra. Kerja juga di penerbit besar,” kataku manyun. “Aku kan nggak. Aku nulis cuma biar kepalaku nggak meledak…”

“Iya, tapi sebagai generasi muda yang baik, kita harus menjunjung Bahasa persatuan. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau menghormati Bahasa Indonesia?”

“Bahasa Indonesia yang mana dulu?” debatku.

“Lho, emang Bahasa Indonesia ada berapa?” Arya balik bertanya. “Ya Bahasa Indonesia yang baik dan benar dong, Ra! Bukan yang bercampur sama bahasa alay atau bahasa seenak jidat! Hafal kan sumpah pemuda?”

 

“Pakemnya apa Bahasa Indonesia yang baik dan benar itu? Pada akhirnya, ejaan akan terus disempurnakan. KBBI akan terus direvisi. Penerbit punya selingkung sendiri-sendiri. Bahasa, termasuk bahasa Indonesia, pada akhirnya akan berkembang kalau nggak mau mati ditelan zaman!” balasku berapi-api.

Arya diam, jadi kulanjutkan.

“Lagipula, bahasa Indonesia yang dipake waktu sumpah pemuda itu, apa nggak termasuk alay kalau di zaman sekarang? Poetra-poetri, jang, satoe, aaaahhhh, aku stres kalau harus disuruh baca pakai ejaan lama. Padahal pada masanya, itu bahasa Indonesia yang baik dan benar kan, Ar?”

Arya tersenyum. Senyum yang belum pernah gagal membuat hatiku bergetar. “Iya deh, iya,” ucapnya mengalah.

Ah, selalu. Dia selalu tahu batas emosiku. Sebelum tersulut dan siap meledak, dia pasti sigap mendinginkannya.

“Suka-sukamu, Ra!” kata Arya. Dia menyerahkan kembali lembaran naskah ke tanganku. “Tapi sekarang, kamu perbaiki dulu naskahmu ini. Nanti pulang kerja, aku lihat lagi. Oke? Bye, Ra…”

Aku tersenyum, dan melambaikan tangan pada Arya yang menghidupkan matic birunya.

“Jangan telat makan, Ra!”

“Iyaaaa!!! Hati-hati, Ar!” teriakku.

 

Sepeninggal Arya, perutku mendadak seperti penuh dengan kupu-kupu. Mmm, baiklah. Kutarik perkataanku tentang editor yang tadi. Mungkin justru menyenangkan punya suami editor. Hal-hal kecil dalam naskah saja dia perhatikan, apalagi istrinya. 🙂 

 

***

 

Fiksi bukan yaaa?

Tau ahhh :p

Dipublikasi di Tanpa kategori | 1 Komentar

Speak English Langsung Sama Bule Itu Lebih Asyik

“Lo kuliah jurusan apa, Ra?” tanya seorang (banyak sih sebetulnya) teman.

“Sastra Inggris…”

“Wuiihh, jago dong lo bahasa Inggrisnya? Ajarin gue dong…”

*Kriiikkkk kriiikkkk kriiikkkk*

**

Percakapan model begini ini nih yang bikin saya merasa salah jurusan. Ekspektasi orang-orang tentang jurusan kuliah saya ini benar-benar ketinggian. Karena mau dilihat dari sudut manapun, kemampuan bahasa Inggris saya benar-benar jauh dari kata “jago”. Saya bahkan udah lupa skor TOEFL waktu tes sejuta tahun yang lalu.

Saya gak ingat apa yang pernah diajarkan guru-guru bahasa Inggris di sekolah. Yang saya ingat, Sir Hen, guru bahasa Inggris kelas 2 SMA itu ganteng :p

Ehh, serius lho. Kemampuan bahasa Inggris saya ini benar-benar cuma didapat dari lirik lagu, film-film, subtitle anime, atau hasil scan manga yaoi di web-web komik online. Kadang-kadang dari buletin/buku-buku menarik dari gereja juga yang belum diterjemahkan. Udah, itu doang.

Kuliah sayapun juga berkutatnya banyak di reading-writing-translation. Jadi memang ga jauh-jauh dari teks. Ini bikin kemampuan speaking saya benar-benar TROLL. Percayalah, kalau nilai ijazah praktik bahasa Inggris saya sampai 9 koma sekian-sekian pas SMA itu sungguh hanya karena yang nguji lagi kesurupan malaikat.

Well, meski begitu, saya selalu pede cuap cuap english sama bule. Bule mana aja yang saya temui, baik di dunia nyata maupun maya. Mau dari negara yang memang english bahasa ibunya, maupun yang bukan. Ga peduli. Saya bisa nyerocos panjang lebar, walau mungkin bule-bule itu lebih banyak garuk-garuk kepala karena ga paham bahasa Inggris saya.
Sebaliknya, benar-benar malas kalau harus ngomong (sok) Inggris sama orang Indonesia sekalipun lawan ngomong saya jago banget english-nya.

Lho? Kok begitu?

Jadi gini, berdasarkan pengalaman pribadi yang saya alami, kebanyakan tipe orang Indonesia itu kalo ngajarin bahasa Inggris suka bikin down. Salah dikit diketawain, pronounce selip dikit ekspresinya langsung bilang bego-banget-sih-ngucapin-kata-ini-doang-ga-bener.

Yah, ga semua orang Indonesia begitu sih ya…Cuma selama ini yang saya alami begini. Benar-benar ga enak banget tahu…Bikin kapok.

Sementara, kalau belajar langsung sama bule itu lebih nyantai. Misalnya saya salah grammar atau pronounce, mereka cenderung mengoreksi –dan bukan menertawakan–. Mereka juga tidak peduli dengan aksen saya ketika berbicara.

Kekurangannya mungkin cuma satu. Bule di dunia nyata , kalau ngomong benar-benar nyaingin motornya Rossi. Cepet banget. Mungkin kuping saya perlu di-upgrade biar bisa menangkap apa yang mereka omongkan tanpa perlu pakai mantra , “please speak more slowly, Miss!”

img_20161022_140116_736
*

Di usia yang tidak muda lagi ini (halah!)
Ada satu alasan yang bikin saya nekat tetap ambil jurusan sastra Inggris. Saya pengen suatu saat nanti bisa menerjemahkan novel saya sendiri.
PffffTttt…

Oke. Saya tahu ini masih mimpi.

Pertama, saya belum punya novel.
Kedua, tugas-tugas translation saya yang masing-masing hanya sepanjang maksimal 2 halaman saja belum pernah beres ngerjainnya, mau nerjemahin novel ratusan halaman?

Capeeekkk dehhhh…

Selamat siang. Palembang panas setelah hujan kemarin.

Ditulis bukan karena pengen ikut

program yang ditawarin Om Ndutt di grup WA.

Bosen aja sih nunggu antrean di M. Hoesin :p

Masih 200an nomor lagi 😿😿😿

Dipublikasi di Tanpa kategori | 3 Komentar